Tel Aviv – Gelombang protes besar-besaran mengguncang Israel ketika lebih dari 100 ribu warga turun ke jalan menuntut Perdana Menteri Benjamin Netanyahu segera menghentikan serangan militer ke Gaza. Aksi demonstrasi ini berlangsung di Tel Aviv pada Sabtu (23/3) malam, memperlihatkan ketidakpuasan publik terhadap kebijakan perang yang dinilai telah memperburuk situasi keamanan dan kemanusiaan di wilayah tersebut.
Tuntutan Rakyat: Gencatan Senjata dan Solusi Diplomatik
Para demonstran, yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, membawa spanduk dan poster bertuliskan “Hentikan Perang” serta “Netanyahu Harus Mundur”. Mereka menuntut gencatan senjata segera dan mendesak pemerintah mencari solusi diplomatik untuk mengakhiri konflik dengan Palestina.
“Cukup sudah pertumpahan darah ini. Kita butuh perdamaian, bukan perang tanpa akhir,” ujar salah seorang pengunjuk rasa yang juga merupakan anggota organisasi perdamaian Israel.
Protes ini juga dihadiri oleh keluarga para sandera yang ditahan oleh Hamas. Mereka menuntut pemerintah lebih serius dalam upaya membebaskan para sandera daripada melanjutkan agresi militer yang dinilai hanya memperburuk kondisi mereka.
Tekanan Internasional dan Ketegangan Politik di Israel
Aksi unjuk rasa ini terjadi di tengah tekanan internasional yang semakin meningkat terhadap Israel. Sejumlah negara dan organisasi hak asasi manusia mengkritik keras serangan militer yang telah menyebabkan ribuan korban sipil di Gaza.
Sementara itu, di dalam negeri, Netanyahu menghadapi tekanan politik yang semakin besar. Beberapa anggota parlemen dari oposisi menilai kebijakan perang ini tidak hanya merugikan rakyat Palestina tetapi juga warga Israel sendiri. Mereka menuding Netanyahu menggunakan konflik ini sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaannya di tengah krisis politik yang melanda Israel.
Respons Pemerintah dan Langkah Selanjutnya
Sejauh ini, pemerintah Israel belum memberikan respons langsung terhadap tuntutan para demonstran. Namun, beberapa pejabat senior di kabinet Netanyahu menyatakan bahwa operasi militer di Gaza masih akan berlanjut hingga tujuan mereka tercapai.
Meski demikian, tekanan domestik dan internasional yang semakin kuat membuat masa depan kebijakan militer Israel di Gaza menjadi tidak pasti. Para analis politik menilai bahwa jika protes terus berlanjut, Netanyahu mungkin akan dipaksa untuk mempertimbangkan opsi gencatan senjata demi menghindari ketidakstabilan politik yang lebih besar di dalam negeri.
Gelombang Protes Diprediksi Terus Berlanjut
Aksi protes ini bukan yang pertama kali terjadi di Israel dalam beberapa bulan terakhir. Dengan meningkatnya jumlah korban di Gaza serta ketidakpastian mengenai nasib para sandera, banyak pihak memprediksi bahwa gelombang demonstrasi akan terus berlangsung hingga ada perubahan signifikan dalam kebijakan pemerintah.
Di sisi lain, masyarakat internasional terus mengamati perkembangan situasi ini dengan cermat. Sejumlah negara telah menyerukan de-eskalasi konflik dan mendorong perundingan damai sebagai jalan keluar dari krisis yang berkepanjangan.
Dengan meningkatnya tekanan dari dalam dan luar negeri, Netanyahu kini menghadapi dilema besar: terus melanjutkan operasi militer dengan risiko ketidakstabilan politik yang lebih besar, atau mempertimbangkan jalur diplomasi untuk menghentikan konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.