Jakarta – Pemerintah Indonesia bersama negara-negara anggota ASEAN tengah mempersiapkan langkah strategis untuk menghadapi kebijakan tarif timbal balik yang diterapkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Kebijakan ini berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian kawasan Asia Tenggara.
Dampak Tarif AS terhadap ASEAN
Sejumlah negara ASEAN terkena tarif tinggi dari AS, dengan Vietnam menghadapi tarif sebesar 46%, Thailand 37%, Malaysia 24%, dan Kamboja 49%. Vietnam, misalnya, yang mengekspor produk senilai US$142 miliar ke AS—hampir 30% dari PDB-nya—menghadapi tantangan besar akibat tarif ini. Perdana Menteri Vietnam, Pham Minh Chinh, telah membentuk satuan tugas khusus untuk menangani dampak ekonomi tersebut.
Respons Indonesia
Menteri Perdagangan Indonesia, Budi Santoso, menegaskan bahwa pemerintah memilih jalur diplomasi dan dialog strategis dalam menghadapi kebijakan tarif timbal balik AS. “Kalau kita lihat respon dan tindakan negara mitra AS saling balas-membalas. Kami memilih pendekatan diplomasi untuk mencari solusi terbaik,” ujar Budi.
Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani, juga mengingatkan bahwa kebijakan tarif AS dapat berdampak luas pada negara-negara ASEAN yang memiliki surplus perdagangan dengan AS. “Kebijakan ini kemungkinan akan mempengaruhi semua mitra dagang yang memiliki surplus,” kata Sri Mulyani.
Upaya Kolektif ASEAN
Negara-negara ASEAN lainnya, seperti Thailand dan Malaysia, juga tengah menyiapkan langkah diplomasi untuk mengurangi dampak negatif dari tarif tersebut. Thailand, misalnya, berupaya meningkatkan pertumbuhan ekonominya yang saat ini masih lemah, sementara Malaysia memilih pendekatan diplomatik dan menolak tindakan balasan.
Kesimpulan
Kebijakan tarif timbal balik yang diterapkan oleh AS menuntut respons strategis dari Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya. Melalui pendekatan diplomasi dan dialog, diharapkan dampak negatif terhadap perekonomian kawasan dapat diminimalisir, serta hubungan perdagangan dengan AS tetap terjaga secara adil dan seimbang.