Pemerintah Vietnam secara resmi meminta Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, untuk menunda penerapan tarif timbal balik yang dijadwalkan mulai 2 April 2025. Selain itu, Vietnam mengusulkan pembukaan jalur negosiasi guna mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan bagi kedua negara.
Langkah Antisipatif Vietnam
Sebagai langkah proaktif, Vietnam telah memangkas tarif impor untuk sejumlah produk asal AS. Tarif impor gas alam cair (LNG) diturunkan dari 5% menjadi 2%, sementara tarif untuk beberapa jenis mobil dipangkas menjadi 32% dari sebelumnya berkisar antara 45% hingga 64%. Pemotongan tarif juga berlaku untuk produk seperti etanol, apel segar, ayam beku, almond, dan ceri.
Upaya Meningkatkan Impor Produk AS
Selain pemangkasan tarif, Vietnam menyatakan kesiapan untuk meningkatkan impor produk pertanian dari AS, termasuk kapas, kedelai, dan kacang-kacangan. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi surplus perdagangan Vietnam dengan AS dan meredakan ketegangan dagang antara kedua negara.
Harapan Vietnam terhadap AS
Perdana Menteri Vietnam, Pham Minh Chinh, mengungkapkan harapannya agar AS mencabut beberapa pembatasan ekspor teknologi tinggi ke Vietnam. Ia menekankan pentingnya kerja sama bilateral yang erat dan pengakuan AS terhadap Vietnam sebagai ekonomi pasar.
Sikap AS terhadap Negosiasi Tarif
Presiden Trump sebelumnya menyatakan keterbukaannya untuk bernegosiasi dengan negara-negara yang ingin menghindari tarif AS. Namun, ia menegaskan bahwa kesepakatan tersebut harus dinegosiasikan setelah penerapan tarif timbal balik pada 2 April.
Kesimpulan
Vietnam berupaya keras untuk menghindari dampak negatif dari kebijakan tarif timbal balik AS dengan mengambil langkah-langkah strategis, termasuk pemangkasan tarif impor dan peningkatan impor produk AS. Pemerintah Vietnam berharap dapat membuka dialog konstruktif dengan AS guna mencapai solusi yang menguntungkan kedua belah pihak dan menjaga stabilitas hubungan dagang antara kedua negara.